Chapter 1
![]() |
| Ilustrasi pertemanan pemain (Sumber : trishartsy_/Instagram) |
Atala, mahasiswa semester 4 Jurusan Ekonomi. Ia bukan anak terkenal bukan pula anak anti sosial. Ia hanya mahasiswa biasa yang menjalankan masa perkuliahannya dengan monoton.
Kesibukannya akhir-akhir ini hanya berputar pada tugas dan kuliah. Atala tergolong wanita cerdas. Ia aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Sejak masa putih abu-abu Atala sudah dibiasakan untuk menjadi murid yang aktif.
Atala berkuliah di Semarang, kampus impiannya. Tentunya dalam menggapai kampus tersebut banyak tenaga dan pikiran yang dikeluarkan. But, she did it. Ia melakukannya dengan baik.
Setelah bergelung dibalik selama beberapa menit, Atala membuka matanya. “Jam berapa ini ya? Hari ini daring kan ya.” tanyanya sambil membuka HP.
Ia mulai menyalakan data HP. Betapa terkejutnya ia melihat notif bahwa hari ini pada mata kuliah Ekonomi Pertanian diadakan secara luring sesuai dengan jamnya yakni pukul 08.00 sedangkan sekarang jam 07.00 WIB.
Atala segera beranjak dari tempat tempat tidurnya. Tidak sempat mandi, ia langsung mengganti baju. Tidak lupa untuk sikat gigi dan cuci muka, Atala segera berangkat ke kampus.
Perjalanan ke kampus memerlukan waktu sekitar 30 menit, belum dengan macet. Maka dari itu, untuk menghindari terlambat Atala segera menyalakan motornya untuk melewati jalanan yang macet.
Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti menggerutu, bagaimana tidak? Sang dosen mengumumkan perubahan jadwal mendadak. Belum lagi keadaan jalan yang sedang ia lalui ini membuat kepalanya bertambah pusing.
Atala sampai kampus pukul 07.50 ia segera berlari dari parkiran menuju kampus. Para mahasiswa melihatnya dengan bingung seakan ia berlari dengan kekuatan super. Sesampainya di depan pintu kelas, ia mengintip dari jendela kelas. Dosen belum masuk ia menetralkan napas sejenak.
Semua mahasiswa menengok ke arah pintu ketika Atala membukanya. “WOI!” hebohnya Atala ketika bertatapan mata dengan teman-temannya.
“Gila gua bahkan gak mandi gara-gara kelas mendadak gini,” ucapnya.
“Gua juga weh!” sahut temannya Atala, Risa.
Risa menepuk meja di sampingnya, “Sini duduk dulu, lu abis lari-lari kan."
Mendengus ketika mengingat kegiatannya berlari-larinya tadi. “Kok dosennya belum datang sih? Tau gitu gua gak usah lari-larian tadi.”
Dalam 15 menit kemudian, dosen datang dan mulai mengabsen kelas. Tidak ada alasan dalam kelas ini, jika telat maka telat walaupun itu karena kemacetan.
Waktu berlalu dengan cepat, tiga sks selesai dengan melelahkan. Sebelum kelas berakhir dosen, “Ada tugas yang harus kalian kerjakan. Review jurnal minimal lima halaman, tulis tangan, dan dikumpulkan besok. Tidak ada kata terlambat.”
Saat dosen mengucapkan itu, semua mahasiswa melotot kaget. Bagaimana tidak tulis tangan lima halaman dan dikumpulkan besok? Belum lagi tugas mata kuliah pada esok hari. Atala jamin, ia dan teman sekelasnya tidak tidur nanti malam.
“Baik Pak,” ucap sekelas dengan lesu. Tidak mungkin ‘kan melawan dosen killer?


0 Comments
Posting Komentar