Jakarta, Media Kota – Kekuatan kita menulis puisi ada ditingkat intelligential dan tingkat kreatifitas kita. Puisi mengolah rasa dalam keindahan kata. Tidak hanya puisi, artikel, paper, dan novel dapat dibuat AI.

Ketua IdNNS Prof. Ir. Teddy Mantoro, Msc, PhD, SMIEEE dalam acara Hari Puisi Indonesia (HPI), mengatakan sajak adalah puisi, namun puisi belum tentu sajak. Puisi berisi kalimat-kalimat puitis, bisa terdapat dalam prosa, seperti novel atau esai.

“Pencipta puisi adalah ‘Pecinta Kebijaksanaan’ yang membahas hal mendasar tentang keberadaan/eksistensi dalam hidup, pengetahuan, nilai, kerendahan hati, ketinggian akal budi dan fikiran, dan keindahan makna kata,” ungkapnya di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Sabtu (27/11).

Prof. Teddy mengatakan, puisi itu selalu saja ada yang membuat dan ada yang menikmati, yang menikmati ini lah menjadikan kualitas kita baik atau tidak. Bedanya sajak dengan puisi ialah susunan-susunannya diatur lewat sajak. Puisi merupakan individual human subjective (menurut orang lain seperti itu belum tentu menurut orang lain objektif dan tidak bisa di-thematical proof).

Pada tahun 2017, The Washington Post menghasilkan 850 artikel yang dibuat bersama robot Heliograf. “The Associated Press mempergunakan sebuah mesin pembelajar yang dapat mentransformasikan data mentah menjadi ribuan tulisan yang siap dipublikasikan. Robot tersebut dapat menulis 12 kali jumlah tulisan yang dikerjakan oleh manusia,” ungkapnya. (KK).