BAB VI : TEKNIK MENYUNTING (EDITING) BERITA DAN FOTO


Cover Buku Jurnalistik Masa Kini. (Sumber : Perpustakaan Politeknik Tempo)

Menyunting berita di dalam sebuah surat kabar memegang fungsi yang penting sekali. Di dalam sebuah buku penuntun masalah-masalah editing yang diterbitkan oleh International Press Instituate, dikatakan bahwa yang diperlukan sekali pada masa kini adalah redaktur yang kreatif.

Menyunting adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seorang wartawan untuk memperbaiki berita yang diterimanya dari si reporter agar berita tadi dapat disajikan kepada pembaca sedemikian rupa, sehingga ia tidak hanya enak dibaca akan tetapi juga tidak mengandung kesalahan fakta dan kemungkinan adanya kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan delik pencemaran dan kalimat-kalimat yang tidak jelas. Istilah Indonesia untuk editing, adalah menyunting. Istilah ini dipungut dari Malaysia. Jadi “menyunting berita” adalah editing the news.

Patut disadari bahwa menyunting memegang peranan penting, karena sebuah berita yang buruk jika disunting dengan baik akan mengubah berita yang tadi menjadi berita yang bagus dan menarik. Tugas utama menyunting dapat dirumuskan dalam dua hal utama, yakni :

A. Mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan:

  • Salah ejaan dan struktur kalimat,
  • Kesalahan fakta-fakta,
  • Kesalahan pada struktur berita.
B. Menjaga masuknya hal-hal yang tidak dikehendaki:
  • Masuknya unsur-unsur pendapat (opini),
  • Pengulangan-pengulangan yang membosankan dan mubazir,
  • Menjaga agar jangan sampai ada fakta yang tertinggal,
  • Menjaga masuknya iklan yang terselubung sebagai berita,
  • Menjaga adanya kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan pencemaran nama baik,
  • Menjaga masuknya berita yang sudah basi,
  • Menjaga masuknya kebohongan/berita bohong.

Dalam menjalankan tugas menyunting diperlukan peralatan-peralatan, tidak saja peralatan teknis seperti gunti, lem, dan pensil, akan tetapi juga peralatan intelek dna kepustakaan, seperti :

1. Pengetahuan yang mendalam tentang cara bekerja di desk surat kabar, mulai dari koreksi naskah sampai kepada teknik pengiriman naskah dan tipe huruf-huruf yang tersedia;

2. Pengetahuan bagaimana mempergunakan buku-buku penunjuk dan buku-buku rujukan (reference material), seperti :
    a. Kamus bahasa (paling kurang Indonesia dan Inggris);
    b. Kamus singkatan (akronim);
    c. Peta;
    d. Buku Siapa Mengapa;
    e. Alamanak pers;
    f. Jane Fighting Ship; dan sebagainya.

3. Pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat di mana surat kabar itu diterbitkan, sejak dari tata negaranya sampai kepada masalah-masalah struktur politik dan ketatanegaraan.

4. Pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Indonesia, baik kekayaan akan kata-kata maupun tata bahasa dan ragam bahasa.

5. Common sense, dengan common sense ini adalah suatu logika yang harus dikembangkan, sehingga hal-hal yang sifatnya bertentangan dengan kenyataan dan kontinuitas mengembangkan berita yang telah dimulai dapat dijaga penerusannya. 

Diperlukan ialah redaktur yang kreatif dan bertindak sebagai manager, karena ia harus dalam pekerjaan sehari-hari menghadapi hal-hal berikut :

A. Sebagai wartawan ia menghadapi hal-hal sebagai berikut:
  • Bertindak untuk memilih dari sejumlah berita yang masuk, mana yang akan disiarkan dan bagaimana menyajikannya;
  • Mengumpulkan berita kecil-kecil yang terlepas sehingga menjadi satu kesatuan berita yang punya nilai tinggi dan menarik untuk dibaca;
  • Untuk menyajikan dalam bentuk berita berkewajiban memberikan imbuhan kepala-kepala kecil, di samping kepala beritanya sendiri.
B. Sebagai manajer ia menghadapi hal-hal :
  • Mengatur arus naskah, sehingga bagian set tidak akan terlalu banyak dibebani pekerjaan atau kekurangan kerja sama sekali;
  • Harus menghadapi keadaan darurat, di mana ternyata naskah kurang, sehingga harus tersedia “filler” (penyela atau penjejal).

Meskipun ia berkerja secara bergegas namun seorang redaktur penyunting tetap harus menjaga mutu berita yang disajikannya, karena mutu berita yang baik dalam penulisannya harus fair dan obyektif. Karena itulah seorang redaktur penyunting dapat menjadi seorang guru yang sangat berpengaruh. 

Menyunting foto juga menghendaki wawasan pengetahuan yang mendalam. Di sini diperlukan sekali pengertian akan seni foto dan komposisi. Di antara pelbagai teknik menyunting foto, “cropping” merupakan cara yang paling baik, karena :

  • Dengan cara cropping banyak segi-segi gambar yang tidak diperlukan dapat dibuang. Misalnya foto seorang di muka mikrofon, di mana terlukis juga kabel yang saling semerawut dapat dihilangkan.
  • Dengan cropping kita dapat mengusahakan pusat perhatian ditujukan kepada apa yang akan ditonjolkan, sehingga menambah expose foto. Dengan framing atau pemberian bingkai pada foto, ia dapat lebih menonjolkan foto tadi.

Teknik lain yang patut disinggung di sini adalah apa yang lazim disebutkan “tusir” (retoucher), yakni usaha memperbaiki foto yang kurang jelas sehingga menjadi jelas. Dari segala teknik yang diajukan, satu yang tidak boleh dilupakan dalam menyunting foto dan untuk menghemat pengeluaran bahagian foto; ialah teknik pembuatan contact print atas hasil negatif. Dari contact print kemudian digariskan mana bagian yang akan ditonjolkan atau diperbesar.