Lebaran tahun ini, Slamet dan keluarganya tetap mempertahankan tradisi mudik, yaitu pada hari pertama lebaran. Alurnya, pagi hari pergi menjalankan salat Idulfitri. Kemudian halal bihalal dengan tetangga di rumahnya. Setelah itu, saudara dari pihak istri datang untuk silaturahmi. Hal ini dikarenakan, sang istri merupakan anak pertama dan adik-adiknya mengusahakan untuk bersilaturahmi di rumah kakak tertuanya.

        Slamet berasal dari Ponorogo atau orang mengenalnya dengan Kota Reog. Ia dan istrinya sama-sama berasal dari Ponorogo yang membedakan hanya kabupatennya saja. Slamet berasal dari Mlarak sedangkan sang istri berasal dari Sumoroto, Jawa Timur. Keduanya asli Ponorogo, Jawa Timur.

        Berbeda dengan mudik sebelum adanya virus korona, pada tahun tersebut tol sangat lenggang dari kendaraan roda empat dibandingkan dengan tahun ini. Setelah virus korona mereda, tol terlihat lebih padat kendaraan. Bisa juga hal ini disebabkan karena sebelumnya ada peraturan lockdown sehingga masyarakat tidak dapat pulang ke kampung halamannya meskipun rindu tak terbendung.

        Namun, dahulu jalanan tol belum seluas saat ini. Perjalanan bisa memakan waktu 24 jam untuk normalnya. Saat ini, Jakarta ke Ponorogo bisa memakan waktu 18 jam jika tidak macet. Sebelum adanya Tol Surabaya – Probolinggo, Slamet akan keluar Tol Wonogiri. Namun karena tol tersebut telah selesai dibangun, ia lebih memilih untuk keluar dari Tol Madiun.

        Masuk Tol Pondok Gede jalanan sangat lancar. Namun, dari Tol Cikampek KM 57 jalanan mulai padat. Bahkan rest area KM 57 penuh dengan kendaraan roda empat. Masjid, toilet umum, dan pusat perbelanjaan dipenuhi oleh pengunjung. Di beberapa rest area bahkan ditutup karena kendaraan di dalam sudah penuh.

        “Butuh waktu sekitar 25 menit karena kemacetan ini,” ujar Slamet.

        Semakin malam, jalanan mulai lenggang meskipun tetap ramai kendaraan. Rest area pun tetap penuh dengan pengunjung walaupun malam semakin gelap. Namun, setidaknya tidak mengalami penumpukan kendaraan dalam satu kilometer ke depan seperti di tol sebelumnya.

        Masuk Tol Surabaya – Probolinggo jalanan sepi dari kendaraan, hanya ada dua sampai lima mobil di depan. Slamet keluar Tol Madiun sekitar pukul 06.00 WIB. Membutuhkan waktu sekitar 17 jam hingga sampai Kota Madiun.

        Jalanan Madiun ketika matahari mulai menanjak sangat padat, terutama pada hari kedua lebaran. Terlebih lagi, lampu lalu lintas ketika lampu hijau waktunya sangat singkat akan mengalami kemacetan panjang. Banyak masyarakat berlalu-lalang untuk silaturahmi ke rumah saudaranya.

        Termasuk dengan Slamet, ia mengusahakan untuk singgah ke rumah saudara di Madiun kemudian izin untuk beristirahat di sana. Hari ketiga lebaran ini lebih banyak digunakan untuk istirahat. Terlalu lama di jalan membuat badan menjadi lelah dan pegal-pegal.

        “Saya di Madiun itu mampir ke rumah saudara dahulu, baru setelah itu ke Ponorogo,” ucap Slamet.

        Perjalanan dari Madiun ke Ponorogo sekitar dua jam karena kemacetan lampu lalu lintas. Sampai Ponorogo sekitar pukul 16.00 WIB dan memutuskan untuk langsung membersihkan diri.

        Esok harinya, ia mulai berkunjung ke rumah saudara yang berada di Mlarak, kampung halamannya. Situasi perjalanan seperti biasa, ramai dan macet karena lampu lalu lintas. Karena masih nuansa lebaran di sana, rumah makan mulai banyak yang dibuka.

        Perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu jam. Meskipun jalanan perkampungan, banyak mobil yang melewati jalan tersebut. Tidak banyak yang berubah di sana, hanya ditambahkan Pom Bensin di jalanan tersebut. Dibandingkan tahun sebelumnya tidak ada Pom Bensin di sepanjang jalanan Mlarak.

        Hari keempat lebaran, ia merencanakan untuk pergi ke Pantai Teleng Ria. Letak pantai tersebut berada di Pacitan. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Mlarak karena harus melewati jalan berkelok gunung.

        Total perjalanan dari hari keberangkatan hingga pulang hanya lima hari di sana. Sebenarnya, sekeluarga berencana untuk pulang pada hari keenam agar dapat menikmati waktu di kampung, tetapi salah satu anggota keluarganya tiba-tiba memiliki kepentingan mendesak di Jakarta. Tepat hari Rabu, ia pulang ke Jakarta. Berangkat dari Sumoroto pukul 05.30 WIB untuk ke Tol Madiun. Jalanan menuju Madiun tidak macet pada pagi hari berbeda kasusnya jika matahari mulai bersinar.

        Masuk Tol Madiun, jalanan sangat lenggang dari kendaraan. Begitupula dengan tol yang mengarah ke Semarang sangat lenggang. Biasanya mulai dari Tol Semarang mulai mengalami kemacetan, untungnya hari itu jalanan sangat lenggang.

        “Iya, tahun-tahun kemarin di tol ini macet panjang. Bahkan rest area yang berada di kilometer tersebut tutup karena kendaraan di dalamnya sudah penuh,” ujar Slamet.

        Meskipun hari Rabu merupakan tanggal genap, tetapi saat diperjalanan banyak pelat ganjil berada di tol. Namun, mobil yang memiliki pelat ganjil tidak diberhentikan atau diperintah untuk keluar dari tol.

        Menuju lingkar Sragen KM 571 tol mulai penuh kendaraan roda empat. Tahun sebelumnya di KM 439 Semarang jalur one way dibuka, tetapi tahun ini di kilometer tersebut tidak dibuka. Jalur one way baru dibuka saat masuk Tol Kalikung.

        “Pengalaman pulang kemarin ada yang lucu. Di depan rest area KM 101 ternyata ada orang gila sedang dikejar-kejar polisi,” ujarnya.

        Saat di Cikampek jalur kanan hanya dibuka satu jalur dan menyebabkan kemacetan pada KM 47 saat pembuangan kendaraan ke jalur kiri. Masuk Tol Jorr jalanan penuh dengan kendaraan, tetapi kendaraan tetap bergerak tidak berhenti disatu tempat.

        Perjalanan dari Madiun ke Jakarta memakan waktu sekitar sembilan jam. Ini merupakan waktu tercepat dalam perjalanan mudik. Sebelum ini, belum pernah perjalanan mudik di bawah sepuluh jam yang dirasakan oleh Slamet.